Indonesia Community Learning Center

Kisah perjalanan seorang anak petani menjadi Profesor Riset

Selasa, 16 Maret 2010

Oleh Harsisto Sardjuri


Lahir sebagai keluarga petani
Saya dilahirkan di Kertosono, pada tanggal 13 Juni 1956 dari pasangan petani almarhum Sardjuri dan almarhumah Suratemi, sebagai anak ke delapan dari 14 bersaudara. Tak heranlah bila saya akhirnya menyukai kegiatan bertani. Sewaktu di bangku SMA, kehidupan ekonomi keluarga kami cukup baik, terbukti dengan kemampuan Ayah membelikan saya sepeda motor yang ketika itu tergolong relatif mewah di desa kami. Karena merasa kecukupan, saat itu saya belum mempunyai motivasi yang muluk-muluk tentang masa depan. Bagi saya, sudah cukup puas bila bisa bekerja sebagai petani di Kertosono.

Pengalaman tak terlupakan saya alami saat duduk kelas dua SMA. Karena hasil panen tebu kami cukup berhasil, maka datanglah lima perampok bersenjata pistol “me-nyatroni” rumah orang tua kami. Sebagai pemuda penjaga rumah, saya-lah yang terpaksa dan harus berupaya menggagalkan perompokan tersebut. Perlawanan terhadap perampok tersebut mengakibatkan saya harus masuk rumah sakit selama kurang lebih dua minggu, karena saya sempat dikeroyok oleh para perampok. Kejadian ini membekas pada diri saya mengenai “getir-nya” menjadi keluarga petani di Indonesia.

Memutuskan untuk merubah arah kehidupan Arah kehidupan
saya menjadi berubah setelah melihat tetangga depan rumah, yang dengan gagah, berangkat kuliah ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Universitas Airlangga. Peristiwa perampokan dan juga pemandangan melihat “kegagahan” seseorang memasuki dunia perguruan tinggi, membuat saya bertekad, “Tidak akan bekerja sebagai petani dulu dan akan berkuliah di perguruan tinggi terbaik di Indonesia”. Niat tersebut saya realisasikan secara otodidak dengan mengikuti bimbingan tes di IPIEM Surabaya.

Syukur Alhamdullilah setelah belajar dengan tekun, pada tahun 1977 saya diterima di lima perguruan tinggi yaitu Jurusam Farmasi di Universitas Airlangga, Jurusan Teknik Kimia di Universitas Gajah Mada, Fakultas Teknik Industri di ITB, Jurusan Teknik Sipil di UNS dan Jurusan Kedokteran di Universitas Brawijaya. Saya-pun akhirnya menjatuhkan pilihan untuk berkuliah di ITB dan merantau ke kota kembang Bandung.

Terkena hama wereng – terpaksa hidup dengan seribu Rupiah seminggu

Kehidupan kuliah di ITB saya jalani sejak tahun 1977 hingga 1985. Hampir seluruh waktu kuliah saya diwarnai suasana keterbatasan. Hal tersebut timbul, karena merebaknya hama wereng di Indonesia. Cita-cita saya yang semula ingin mengambil jurusan teknik Mesin atau Teknik Industri terpaksa gagal dan berbelok menjadi Teknik Pertambangan karena keterbatasan dana.

Kejayaan keluarga kami selaku petani padi, yang telah dibangun sejak puluhan tahun, musnah dalam waktu sekejap karena serangan hama wereng pada tiga periode berturut-turut di penghujung tahun 1977 hingga tahun 1978. Serangan hama ini sangat dahsyat sehingga memporak-porandakan seluruh sawah milik keluarga kami. Akibatnya, suplai kebutuhan hidup dan kiriman uang ke Bandung menjadi macet. Sehingga saya terpaksa harus hidup cukup dengan uang seribu Rupiah untuk setiap 1 minggu. Kehidupan “survival” sebagai anak kontrakan bersama Goenarso, Asyikin Abbas, Subekti Widyanadi, Abdul Mudjib, Budi Susetyo dan Sunandar merupakan sebuah kehidupan dengan kenangan tersendiri.

Keadaan darurat tersebut memaksa saya harus hidup dengan manajemen makan harian yang cukup “spartan” yaitu sehari hanya makan nasi dua kali cukup dengan lauk kuah sayur semata. Alhamdullilah, kakak perempuan nomor dua saya, Yunda Sukarliek, akhirnya turun tangan mengambil alih tugas orang tua dengan mensuplai kebutuhan hidup secukupnya.

Namun bantuan ini justru membuat saya merasa terbebani dan berhutang budi pada kakak saya. Saya menjadi merasa malu karena di Bandung, saya hanya belajar & belajar. Berbeda dengan sewaktu saya di Kertosono, disana saya justru bisa membantu keluarga dengan memberikan nafkah melalui kegiatan bercocok-tanam dan bertani. Di tengah kekalutan itu, saya tidak berhasil masuk ke jurusan teknnik mesin, yang saya dambakan, dan akhirnya terpaksa mengambil jurusan Tambang Metalurgi karena indeks prestasi saya yang tidak mencukupi.

Memulai usaha sambil bekerja di LIPI
Namun saya tidak putus asa, selepas sarjana muda, saya mulai membuka usaha di bidang pertambangan golongan C dengan nama perusahaan PT. Selo Kencono yang bermarkas di Semarang dengan modal dari kakak, bersama 3 orang kawan. Maksud dan tujuan membuka usaha tak lain karena keinginan memperoleh pendapatan untuk membalas budi sang kakak. Pada saat itu juga, saya mengawali bekerja di Lembaga Metalurgi Nasional – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LMN – LIPI) sebagai tenaga honorer sembari mengerjakan tugas akhir saya.


Salah satu keuntungan bekerja di LIPI adalah saya dapat menyelesaikan tugas akhir tanpa harus mengeluarkan biaya, tetapi justru sebaliknya mendapat gaji. Pada saat awal wawancara penerimaan sebagai pegawai negeri, saya memberikan pilihan kepada sang penguji bahwa saya akan bekerja di LIPI apabila diberi kesempatan berwira-usaha, kalau tidak saya akan mengundurkan diri. Berwirausaha ini menjadi sangat mutlak karena gaji yang saya terima dari LIPI sangatlah kecil.

Memulai bisnis bahan galian- meminjam uang ke Bapindo
Saya berwira-usaha dengan mendirikan PT Selo kencono dan memilih bisnis galian tambang karena saya belajar ilmu teknik pertambangan. Saya mengawali bisnis ini dengan menggunakan tenaga manusia, bukan tenaga mesin, untuk memuat bahan galian C ke atas truk. Saya menyadari sepenuhnya bahwa keuntungan dengan memakai tenaga manusia relatif lebih rendah dan memerlukan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan memakai mesin. Namun saat itu, saya berpendapatan bahwa cara ini akan lebih banyak memberikan kesempatan kerja bagi lebih banyak orang. Selain itu saya juga mempunyai keterbatasan modal untuk membeli alat-alat dan permesinan.

Sedikit demi sedikit, usaha ini berkembang dan pada tahun 1985, PT Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) cabang Semarang telah menyetujui pemberian pinjaman dana sebesar Rp 150 juta dengan anggunan 14 buah sertifikat tanah-tanah para petani nntuk mengembangkan bisnis saya. Saat itupun saya sudah mengantongi ijin pertambangan, dan operasi proyek sudah relatif mulai berjalan lancar. Saya berpendapat bahwa dengan pencairan dana pinjaman dari Bapindo maka aktivitas bisnis peusahaan saya bisa menjadi lebih besar lagi.

Maka, saya saat itu terus menerus berdo’a, berzikir, sholat tahajud dan puasa sunnah Senin-Kemis tiada henti-hentinya dengan harapan agar Allah SWT bisa memudahkan cita-cita saya untuk mengembangkan bisnis galian tambang tersebut. Namun ternyata menjelang hari ”H” pencairan kredit, kepala kredit Bapindo Semarang dipindah secara mendadak ke Ambon yang berakibat pembatalan semua rencana pencairan pinjaman. Kejadian ini pada awalnya sangat membuat sedih hati saya.

Namun ternyata di balik kegagalan itu semua, terkuak sebuah hikmah yang tak disangka-sangka. Karena beberapa tahun kemudian, ekonomi Indonesia tiba-tiba mengalami krisis moneter. Rupiah mengalami devaluasi dan bunga bank meroket. Saya akhirnya bersyukur dengan kegagalan pencairan pinjaman Bapindo tersebut. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi bila Bapindo merealisasikan kreditnya, lalu hutang tersebut tidak terbayar dan seluruh tanah petani tersita. Saya justru membuat para petani menjadi lebih miskin dari sebelumnya. Syukur alhamdulilah dibalik itu semua, ternyata ada hikmah yang tiada tara dari Allah SWT

Bapindo sendiri akhirnya diterpa berbagai skandal dan relatif bangkrut saat terjadinya krisis moneter. Bank ini akhirnya di-merger dengan 3(tiga) Bank pemerintah lainnya menjadi PT Bank Mandiri. Pada tahun 2006, nama Bank Bapindo akhirnya hanya dipergunakan sebagai nama sebuah gedung di Jakarta.


Mendapat beasiswa Monbusho dan meneruskan sekolah ke Jepang
Sambil mengurus bisnis galian tambang dan juga bekerja di LMN LIPI, akhirnya saya lulus sidang sarjana dan dinyatakan sebagai Insinyur tambang dengan syarat harus memperbaiki skripsi tugas akhir saya. Hampir bersamaan dengan saat pelaksanaan sidang sarjana tersebut, saya juga mengikuti seleksi untuk memperoleh bea siswa melanjutkan kuliah di Luar negeri. Berkat kasih Allah SWT, saya berhasil lolos seleksi dan diterima untuk melanjutkan studi di Jerman, Perancis dan Jepang dengan beasiswa dari Menristek RI.

Namun kesempatan emas yang sudah depan mata itu sempat mengalami hambatan dari pihak BPPT yang tidak mau mengirimkan saya karena status pegawai Honorer saya. Berkat perjuangan Direktur LMN-LIPI akhirnya saya diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah. Setelah diizinkan, saya memilih Jepang, karena negara itu memberikan uang saku yang lebih besar dari negara-negara lain.

Ternyata proses seleksi ke Jepang masih terus menghadang, beserta 26 orang calon lainnya saya harus diuji lagi oleh 13 Professor dari Jepang.memberangkatkan, berusaha kembali menggagalkan peluang saya. Saya waktu itu tidak diberi tahu kalau akan ada seleksi dari para Professor, sehingga saya terpaksa harus mengikuti ujian seleksi tanpa persiapan apa-apa. Puji syukur alhamdullilah, Allah SWT telah memudahkan, maka saya bisa lolos bersama 5 orang calon lain berangkat ke Jepang dengan status binaan Monbusho.

Saya diterima di Universitas yang paling bergengsi yaitu di Tokyo University (Universitas Tokyo), Fakultas Teknik, Departemen Metalurgi dibawah tanggungan Menristek RI dan Monbusho Jepang. Bisnis PT Selo kencono terpaksa dihentikan ditengah jalan. Pentupan bisnis ini sempat menguras dana yang cukup besar utuk melunasi hutang-hutang yang selama ini telah dikeluarkan untuk modal kerja.

Berbeda hasil riset dengan perusahaan raksasa Jepang - Tokyo gas

Saya tidak menyia-nyiakan waktu di Jepang. sembari training di bidang korosi dan juga kursus bahasa Jepang, saya meminta kepada Profesor pembimbing agar diberi kesempatan untuk melakukan riset. Professor tersebut akhirnya menyarankan untuk melakukan latihan penelitian dengan menguji ulang penelitian yang telah dipublikasikan oleh tim Tokyo Gas dibawah pimpinan Dr. Kasahara.

Ternyata dengan prosedur yang sama, hasil penelitian saya berbeda dengan hasil Tim Tokyo Gas walaupun setelah penelitian tersebut diulang- ulang. Kemudian bersama profesor pembimbing dan tim Tokyo Gas, kami melakukan penelitian ulang secara bersama-sama, ternyata hasil penelitian saya-lah yang benar.

Dari situlah, saya mendapat kepercayaan untuk mengerjakan proyek proyek penelitian tersebut selama 3 tahun dengan judul “Pengendalian korosi pada sistem pendingin AC sentral untuk Stasiun dan jaringan kereta api bawah tanah”.

Dan tema penelitian inilah yang akhirnya dijadikan tema program master dan program doktor saya di Universitas Tokyo.


Mengejar master 2 tahun dan menulis skripsi dengan huruf Kanji
Ternyata dengan penelitian saya, Universitas Tokyo mendapat berbagai keuntungan antara lain adanya dana masuk dari Indonesia, juga dana bea siswa Monbusho serta dana penilitian dari Tokyo Gas.

Sementara saya mendapat tantangan untuk unjuk kemampuan dalam melakukan penelitian. Untuk kegiatan tersebut saya rela kerja keras melakukan penelitian setap hari dari jam 8.30 pagi sampai jam 23.30, yaitu sampai jadwal terakhir perjalanan kereta api listrik di Tokyo. Setiap tiga bulan sekali laporan hasil riset tersebut saya sampaikan kepada pihak Tokyo Gas. Semua suka-duka itu saya jalani dengan baik, dan akhirnya saya siap untuk maju mempertahankan thesis tersebut dalam sidang master.

Namun sekali lagi saya kembali mendapat cobaan karena Profesor menghendaki gelar master saya harus ditempuh dalam kurun waktu 3 tahun. Saya tentu berontak & menolak kemauan Profesor tersebut karena saya ke Jepang bukanlah sekedar mencari ijazah tapi mencari ilmu. “Kenapa teman-teman lain bisa 2 tahun selesai master sementara saya harus 3 tahun ?.” Demikian pertanyaan saya kepada sang Professor.

Perhitungan saya, kalau menuruti kemauan Profesor untuk menyelesaikan program master dalam 3 tahun, yaitu sesuai kontrak riset dengan pihak Tokyo Gas, maka rencana untuk mendapatkan beasiswa program doktor akan punah. Karena bea siswa program Doktor dari pemerintah terbatas hanya untuk 5 tahun (2 tahun program Master dan 3 tahun program Doktor). Sang Profesor-pun akhirnya mengalah dengan syarat bahwa skripsi saya harus ditulis dalam bahasa kanji. Walaupun sangat sulit dan cukup bersusah-payah, Alhamdullilah, masalah tersebut akhirnya bisa diatasi dan saya memperoleh gelar Master.

Melanjutkan program doktor dengan 3 tahun tambahan
Setelah lulus program master, saya mengikuti ujian masuk program doktor dan juga mengajukan permohonan beasiswa kepada Menristek RI. Pada saat mengajukan perpanjangan beasiswa, Saya harus membuat pernyataan yang direkomendasi Profesor pembimbing. Surat pernyataan tersebut mengharuskan penyelesaian program doktor dalam waktu 3 tahun.

Walaupun jangka waktu ini realistik, tapi diam-diam pihak universitas mendapat tambahan kontrak penelitian dari Tokyo Gas untuk 3 tahun lagi. Ini berarti total waktu kontrak riset yang harus dilaksanakan Universitas Tokyo menjadi 6 tahun, sementara keinginan Menristek, jangka waktu program master plus program doktor hanya terbatas 5 tahun. Inilah awal dari kericuhan program Doktor saya.

Insiden di Hamamatsu
Menjelang saya memasuki tahun ketiga program doktor, saya dipercaya menjadi ketua umum seluruh mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jepang (untuk periode 1989~1991). Kebetulan pada suatu hari Sabtu, sebagai ketua umum Mahasiswa Indonesia, saya mendapat undangan persahabatan Indonesia-Jepang oleh Rotary Club di Hamamatsu. Pada saat itu, Duta Besar Indonesia untuk Jepangpun juga menghadiri acara tersebut. Sebuah acara yang sangat sulit saya tinggalkan. Masalah muncul dengan tidak hadirnya saya di laboratorium pada hari Sabtu tersebut.

Profesor saya menjadi sangat marah dan menggunakan kasus tersebut sebagai salah satu alasan untuk menjadikan program doktor saya dari 3 tahun menjadi 4 tahun. Tentunya saya protes dan tetap memaksakan program doktor hanya 3 tahun sesuai beasiswa Pemerintah Indonesia.. Saya juga utarakan tekad saya ke sang professor, bahwa saya akan pulang dengan atau tanpa ijazah doktor. Juga saya sampaikan bahwa sekalipun saya pulang tanpa gelar doktor, tetapi saya berjanji untuk menjadi profesor yang termuda dan lebih cepat dari senior-senior lainnya yang lulusan Jepang, dengan waktu studi yang lebih lama.

Walaupun demikian, saya penuhi seluruh kewajiban program doktor saya dengan menyusun disertasi dengan judul yang sama dengan judul thesis master tentang sistem pendingin di kereta api di Tokyo, “Tanshoko no kyoku bu fushoku kan suru kengkyu”, yang sudah barang tentu menggunakan huruf kanji. Kemudian saya kembali ke tanah air tanpa menunggu 4 tahun untuk mempertahankan thesis dan juga tanpa menunggu keluarnya gelar doktor dari sang Professor yang ingin mempekerjakan saya.

Kembali ke LIPI yang kacau & ingin pindah ke PLN
Di Indonesia, ketika saya kembali ke LIPI, ternyata keadaannya kacau. LIPI adalah tipikal sebuah instansi pegawai negeri. Kerja tidak kerja, sarjana atau bukan sarjana, semua dipukul rata, artinyatiap awal bulan pasti akan gajian dengan nilai yang tidak jauh berbeda. Hiduplah saya dalam budaya pengangguran yang terselubung. Saya-pun sempat berontak dan berniat untuk pindah ke PLN. Tentunya PLN-pun siap menerima, tetapi pihak LIPI tidak memberikan izin lolos butuh.

Dengan pertimbangan yang masak-masak, akhirnya saya urungkan niat untuk keluar dari LIPI. Alasannya ?. Sekalipun kerja di PLN akan memperoleh gaji yang lebih tinggi, tetapi suasananya adalah suasana proyek. Padahal kapasitas saya adalah seorang peneliti dan penulis, keahlian tersebut tentunya kurang terlalu diperlukan di PLN.

Pada tahun 1995, saya-pun mencoba menjadi pengurus pusat Golkar sebagai sekretaris bendahara departemen kerochanian yang bermarkas di Anggrek Neli-Slipi. Saya terus terang hanya kuat bertahan 3 bulan dan akhirnya terpaksa keluar karena tidak cocok dengan habitat orang-orang politik.


Menjadi professor riset yang diangkat oleh Presiden Megawati
Setelah melanglang-buana dan mencoba berbagai aktivitas, akhirnya saya kembali ke tempat awal karier saya yaitu Pusat penelitian Metalurgi –LIPI. Pada tahun 1997, saya memantapkan karier di bidang penelitian dengan melalui jenjang-jenjang fungsionalnya. Hanya dalam jangka waktu kurang dari5 tahun, saya mencapai kapasitas dan telah memenuhi syarat sebagai seorang Ahli Peneliti Utama (APU) atau yang sekarang dikenal sebagai Professor riset.

Cobaan muncul lagi dengan diganjalnya pengajuan APU oleh Kepala Puslit Metalurgi selama 1 tahun dari 2002 hingga 2003. Saya sempat memikirkan untuk mem-PTUN-kan LIPI karena menghambat pengajuan ini. Namun akhirnya Kepala LIPI turun tangan dan Kepala Puslit Metalurgi dipanggil untuk klarifikasi. Esok harinya loloslah usulan APU saya kepada Presiden RI. Pada bulan September 2003, Syukur Alhamdulilah, saya dinyatakan sebagai Seorang Professor Riset (APU) bidang Korosi dan Analisa Kegagalan yang Surat Keputusan-nya ditandatangani oleh Presiden RI Ibu Megawati Soekarnoputri.


Mencoba menerapkan hasil-hasil penelitian
Setelah memperoleh gelar Professor Riset, hari-hari saya selanjutnya tak ubah bak seorang “dukun” atau konsultan pengendalian korosi dan analisa kegagalan. Pasien-pasien saya antara lain adalah Pembangkit Listrik, Instalasi kilang minyak dengan jaringan perpipaannya, Pabrik pupuk, Pabrik kimia dan lain sebagainya. Saya-pun terus aktif membimbing mahasiswa tugas akhir dari jurusan Mesin, Teknik kimia, Metalurgi, Teknik lingkungan dan Teknik industri. Hingga saat ini tak kurang dari 100 mahasiswa S-1 maupun S-2 yang telah saya bimbing.

Untuk merealisasikan hasil penelitian, saya mencoba mendirikan bengkel otomotif dengan moto “hasil pengecetan tak kalah dengan produk pabrik”. Namun karena keterbatasan waktu saya, akhirnya 4 tahun kemudian, bengkel ini terpaksa saya tutup. Walaupun demikian saya cukup puas karena telah membuka lapangan kerja dan bisa menciptakan beberapa patent penelitian antara lain “mesin oven cat yang hemat energi”.

Pada tahun 1998, untuk menerapkan beberapa penelitian alat-alat pengeringan, saya juga membuka lahan tidur di belakang perumahan karyawan Puspiptek dengan luas lahan 10 hektar. Pada tahun berikutnya luas lahan ini berkembang menjadi 25 hektar. Lahan ditanami pisang kavendis, cabai, kacang tanah dan jagung manis. Hal ini dipacu dengan naluri saya sebagai mantan petani dan kondisi krisis moneter kala itu.

Namun karena lahan tersebut adalah areal tadah hujan dan juga bekas hutan karet yang miskin hara, maka dalam jangka waktu kira-kita 3 tahun, usaha perkebunan inipun juga mengalami kegagalan dan terpaksa ditutup.

Memanfaatkan paten-paten yang dimiliki dengan mendirikan PT KIPTI
Walaupun dengan berbagai kegagalan di dunia bisnis, Allah SWT tetap memberikan berkah kepada saya. Hal ini terbukti dengan dianugerahinya beberapa patent kepada saya di bidang pertanian yang diantaranya patent mesin pengering padi, mesin pengering bahan baku obat-obatan produk pertanian, alat penanam jagung dan kacang-kacangan, pengering kopra putih, mesin pembuat tepung ikan dan patent-patent dibidang lain yang diantaranya Incinerator, bungker submarine dan sistem penambalan pipa migas.

Pada bulan Maret 2004, untuk memanfaatkan patent-patent tersebut, saya bersamaa Wimpy Solichin-TI 77 mendirikan PT. Karya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Indonesia, disingkat PT.KIPTI, yang bermarkas di Kawasan Puspiptek Serpong. Walaupun masih tertatih-tatih dan terseok-seok, Alhamdullilah PT.KIPTI masih terus eksis merintis berbagai pesanan dari BATAN, BPPT, LIPI untuk program IPTEKDA. Eksisnya PT. KIPTI karena uluran tangan para sahabat antara lain Nurudin, Zainal Asyikin Abas, Budi Prio Handoko, Suta Vidjaya dan lain-lain.

Melihat kedepan & berniat membantu petani
Apa program jangka pendek dan jangka panjang yang ingin saya perjuangakan dan wujudkan ?. Pertama tama adalah ibadah di jalan Allah dengan implementasi IPTEK di bidang Pertanian untuk pemberdayaan petani. Pada tahun 2006 menuntaskan produksi mesin pengering padi, tahun 2007 mewujudkan incenerator sampah kota dan tahun tahun berikutnya akan mengimplementasikan patent-patent yang saya miliki. Program jangka panjang dengan pemberdayaan kelompok petani jarak pagar untuk biodiselpun sedang saya rintis.

Kita sadar betul,”Tiada daya dan kekuatan selain milik Allah SWT”, maka atas kehendakNYA-lah saya dan kawan-kawan bisa berbuat sesuatu.

Prinsip berkeluarga
Istri saya Entang Sutriasih juga bekerja di Puslit Metalurgi LIPI, anak saya yang pertama Wiandri lulusan sarjana sipil Unpar September 2005. Sekarang ia kerja di Bank HSBC Jakarta, anak nomor dua Wini Novita kuliah di Akutansi Maranata Bandung semester 2.

Sedangkan anak nomor tiga Arum Kusumawardani sedang ujian SD kelas 6 dan si bungsu Dian Puspitasari kelas 4 SD. Saya menerapkan prinsip keseimbangan dalam membina keluarga. Istri saya lebih sabar dengan anak-anak karena saya lebih tegas. Anak-anak itu adalah titipan Allah SWT sehingga tugas kami untuk mengantarkan mereka menjadi manusia yang sebaik mungkin sesuai dengan kapasitasnya. Saya menekankan pentingnya tidak memaksakan kehendak kepada anak-anak, karena tiap anak mempunyai kemampuan yang berbeda beda. Hal yang paling penting adalah penerapan agama yang baik sejak dini.

Serpong, Senin Pon 22 Mei 2006.

0 komentar:

Posting Komentar

Post

Link Teman

  © Blogger template The Beach by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP